Aku dan dia kali ini

By primuspandumudita

Aku membutuhkan dia, dia untuk berbagi, dia untuk diberi, dia untuk dilindungi. Namun aku keberatan jika dia memiliki aku.

Susah sekali mencari dia. Dia yang aku temukan selalu dia yang tipikal. Dia yang ingin memiliki, dia yang ingin mengatur, dia yang ingin susah diterjemahkan.

Beberapa hari yang lalu aku pergi dengan dengan salah satu dari dia. Menghabiskan watu, bersenang-senang, menyalurkan nafsu. Dalam batasan norma tentunya. Aku senang, dia gembira. Aku puas, dia lega. Aku tertawa, dia tersenyum lebar, bahkan sering kali aku dan dia terpingkal bersama.

Waktu terasa begitu cepat, hanya badan aku dan dia yang terasa lelah yang sadar tentang jalannya waktu. Hati, mata dan perasaan aku dan dia masih ingin melanjutkan seolah tak ada waktu lagi untuk pertemuan aku dan dia di hari esok. Saat itu logika yang masih segar, mengingatkan aku untuk mengakhiri ini, aku mengira harus memulai bagian akhirnya. Ternyata dia juga memiliki logika yang segar pula, dia terlebih dahulu melontarkan bagian akhir aku dan dia.

Bingung antara perasaan didahului dan senang karena tak perlu memulai. Ternyata dia sangat beragam. Semakin kagum aku dengan dia. Bertambah lagi kerinduanku untuk segera bertemu dengan dia lagi.

Pagi tadi dia meminta, aku tidak merasa keberatan. Aku masih belum merasa terganggu dengan dia. Entah nanti. Logika ini juga belum terusik, membiarkan semuanya berjalan seperti apa adanya. Permintaan dia yang absurd itu yang membuat logika termenung. Menunggu untuk menganalisis mulai dari bagian mana terlebih dahulu

2 Tanggapan ke “Aku dan dia kali ini”

  1. Tia Setiawati Priatna Berkata:

    siapakah dia? :D

    • primuspandumudita Berkata:

      dia adalah perempuan yang kemudian aku pacari, namun setelah dijalani dan tidak berhasil. Kami pun memutuskan untuk mengakhiri.

Tinggalkan Balasan